• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
  • Home
  • About Us
  • Contact Us
Biutiva.com

Biutiva.com

Tips beauty dan rekomendasi produk

Home » Fungal Acne vs Bruntusan: Beda Penyebab, Beda Cara Atasi

Fungal Acne vs Bruntusan: Beda Penyebab, Beda Cara Atasi

Updated: April 7, 2026

Ilustrasi bergaya flat ala Kurzgesagt yang menampilkan dua wajah perempuan berdampingan: sisi kiri dengan jerawat merah meradang (fungal acne) berlatar biru dengan elemen mikroorganisme dan obat, serta sisi kanan dengan bruntusan kecil berwarna kulit berlatar oranye dengan elemen minyak dan produk skincare.

Kamu sudah coba berbagai skincare anti-jerawat, tapi kulit tetap penuh bintik kecil yang nggak kunjung hilang? Bisa jadi yang kamu kira jerawat bukan jerawat sama sekali.

Di Biutiva, pertanyaan ini sering diajukan dan sebagian besar dari penanya sudah mencoba minimal tiga produk berbeda sebelum sadar bahwa yang mereka tangani bukan jerawat biasa.

Fungal acne dan bruntusan adalah dua kondisi kulit yang sangat mudah tertukar. Tampilannya hampir sama: bintik-bintik kecil, muncul berkelompok, bikin kulit terasa tidak rata. Tapi penyebabnya berbeda jauh, dan kalau salah tangani, kondisinya bisa makin parah.

Artikel ini menjelaskan perbedaan keduanya secara konkret, termasuk cara mengidentifikasi masing-masing dan produk apa yang bisa kamu coba.

Daftar Isi
  • Apa itu fungal acne?
  • Apa itu bruntusan?
  • Perbedaan fungal acne dan bruntusan: 5 hal yang perlu kamu cek
    • 1. Ada rasa gatal atau tidak?
    • 2. Ukuran dan bentuknya seragam atau bervariasi?
    • 3. Di mana lokasinya?
    • 4. Sudah berapa lama dan apa yang sudah dicoba?
    • 5. Apakah kondisi memburuk setelah pakai skincare tertentu?
  • Tabel perbandingan cepat
  • Cara mengatasi fungal acne
    • Produk yang bisa kamu coba
  • Cara mengatasi bruntusan
    • Produk yang bisa kamu coba
  • Bolehkah pakai produk yang sama untuk keduanya?
  • Kapan harus ke dokter?
  • Langkah selanjutnya
  • FAQ

Apa itu fungal acne?

Nama ilmiahnya adalah Malassezia folliculitis, bukan jerawat biasa, tapi infeksi jamur pada folikel rambut.

Jamur Malassezia sebenarnya sudah ada di kulit semua orang sebagai bagian normal dari mikrobioma kulit. Masalah muncul ketika jamur ini tumbuh berlebihan dan masuk ke folikel rambut, lalu menyebabkan peradangan.

Kondisi ini lebih sering terjadi di lingkungan panas dan lembap, persis seperti iklim Indonesia. Keringat berlebih, pakaian ketat, dan kulit yang sering tertutup tanpa sirkulasi udara memicu pertumbuhan jamur dengan cepat.

Satu hal yang sering bikin penderita frustrasi: fungal acne tidak mempan dengan obat jerawat biasa.

Karena penyebabnya jamur, bukan bakteri, antibiotik topikal atau benzoil peroksida yang biasa dipakai untuk jerawat biasa justru tidak akan membantu dan pada beberapa kasus, memakai antibiotik topikal untuk fungal acne justru memperburuk kondisi karena antibiotik membunuh bakteri yang selama ini menjadi pesaing alami jamur di kulit.

Apa itu bruntusan?

Bruntusan bukan istilah medis resmi, tapi hampir semua orang Indonesia tahu persis apa yang dimaksud: kulit yang terasa kasar seperti amplas kalau diraba, dengan bintik-bintik kecil yang tidak kunjung hilang meski sudah ganti produk berkali-kali.

Dalam dermatologi, kondisi ini biasanya masuk kategori comedonal acne atau jerawat komedo, bintik-bintik kecil yang muncul karena pori-pori tersumbat minyak berlebih, sel kulit mati, atau kotoran.

Bruntusan bisa dipicu oleh banyak hal: produk skincare yang terlalu berat untuk jenis kulit (comedogenic), kurang eksfoliasi, perubahan hormon, atau kebiasaan menyentuh wajah terlalu sering.

Pada dasarnya, bruntusan terbentuk karena pori-pori tersumbat oleh sebum dan sel kulit mati, bukan karena infeksi bakteri.

Bakteri Propionibacterium acnes baru berperan ketika komedo berkembang menjadi jerawat meradang, yang tampilannya berbeda dari bruntusan biasa.

Perbedaan fungal acne dan bruntusan: 5 hal yang perlu kamu cek

Sebelum kamu ganti produk lagi atau booking dokter, cek lima hal ini dulu.

1. Ada rasa gatal atau tidak?

Ini perbedaan paling jelas. Fungal acne hampir selalu disertai rasa gatal, kadang ringan, kadang cukup mengganggu.

Bruntusan biasanya tidak gatal; teksturnya terasa kasar saat disentuh, tapi tidak menyebabkan rasa tidak nyaman seperti itu.

Kalau bintik-bintikmu gatal, curigai itu adalah fungal acne.

2. Ukuran dan bentuknya seragam atau bervariasi?

Fungal acne punya ciri khas: ukurannya seragam. Semua benjolan kecilnya hampir sama besar, terlihat rapi dan merata.

Bruntusan biasanya lebih bervariasi, ada yang kecil, ada yang lebih besar, muncul tidak beraturan.

3. Di mana lokasinya?

Fungal acne paling sering muncul di dahi, dada, punggung, bahu, dan lengan atas, pokoknya di area yang banyak keringat dan sering tertutup.

Bruntusan lebih sering di zona T wajah: dahi, hidung, dagu.

Tapi keduanya bisa saling tumpang tindih, jadi lokasi saja tidak cukup untuk memastikan.

4. Sudah berapa lama dan apa yang sudah dicoba?

Kalau kamu sudah pakai berbagai produk anti-jerawat selama berbulan-bulan tapi tidak ada perbaikan sama sekali — bahkan makin parah — ini tanda kuat bahwa masalahnya bukan jerawat biasa.

Sebuah studi menemukan bahwa 65% pasien yang terdiagnosis Malassezia folliculitis sebelumnya sudah menjalani pengobatan untuk jerawat biasa yang tidak berhasil, mulai dari antibiotik topikal hingga obat minum. (Levy et al., dikutip dalam PMC12471122)

5. Apakah kondisi memburuk setelah pakai skincare tertentu?

Fungal acne bisa makin parah kalau kamu pakai produk yang mengandung minyak berat atau asam lemak tertentu karena jamur Malassezia memakan lipid.

Kalau kulitmu memburuk setelah pakai pelembap berbasis minyak atau serum yang mengandung galactomyces, ini perlu diwaspadai.

Tabel perbandingan cepat


Cara mengatasi fungal acne

Kalau kamu cukup yakin ini fungal acne, urutannya sederhana: stop dulu faktor yang memperburuk, baru tambahkan yang membantu.

Langkah pertama: hentikan produk yang kemungkinan menjadi pemicunya. Hindari moisturizer berbasis minyak berat, produk yang mengandung asam lemak seperti oleic acid, lauric acid, stearic acid, dan produk fermentasi seperti galactomyces filtrate.

Untuk penanganan medis, dokter biasanya meresepkan krim atau sampo yang mengandung ketoconazole atau menganjurkan sampo selenium sulfide.

Sementara untuk kasus ringan sampai sedang, penggunaan sampo anti-jamur sebagai masker wajah selama 5-10 menit sebelum dibilas bisa menjadi langkah awal.

Sedangkan untuk skincare sehari-hari, fokuslah pada produk yang sudah dikonfirmasi fungal acne safe, artinya bebas dari lipid dan ester yang menjadi makanan jamur Malassezia.

Produk yang bisa kamu coba

Untuk pembersih, Somethinc Low pH Jelly Cleanser adalah pilihan yang baik karena formulanya ringan dan tidak mengandung pemicu fungal acne.

👉 Cek harga Somethinc Low pH Jelly Cleanser di Shopee

Untuk toner sekaligus eksfoliasi ringan, For Skin’s Sake FSS Salicylic Acid Toner 2% adalah pilihan yang tepat.

Salicylic acid (BHA) aman untuk fungal acne karena bekerja mengeksfoliasi sel kulit mati di dalam pori tanpa mengandung lipid, dan jamur Malassezia tidak bisa memakainya sebagai sumber makanan.

👉 Cek harga For Skin’s Sake FSS Salicylic Acid Toner 2% di Shopee

Untuk pelembap, pilih yang berbahan dasar gel dan bebas minyak berat. Azarine Oil Free Brightening Moisturizer sering direkomendasikan oleh komunitas skincare Indonesia untuk penderita fungal acne karena teksturnya ringan dan tidak mengandung pemicu Malassezia.

👉 Cek harga Azarine Oil Free Brightening Moisturizer di Shopee

Penting: Jika kondisimu parah, gatal tidak tertahankan, atau tidak membaik setelah 3-4 minggu mengganti produk, segera konsultasi ke dokter spesialis kulit. Fungal acne yang berat membutuhkan obat antijamur oral yang tidak bisa dibeli bebas.

Cara mengatasi bruntusan

Kalau yang kamu hadapi bruntusan, pendekatannya berbeda. Bukan soal membunuh jamur, tapi membuka pori yang tersumbat dan menjaga skin barrier tetap utuh selama prosesnya.

Beda dari fungal acne yang butuh antijamur, bruntusan cukup butuh satu hal: pori yang terbuka kembali. Produk dengan kandungan AHA, BHA, atau kombinasi keduanya bekerja mengangkat sel kulit mati yang menyumbat pori.

Tapi jangan berlebihan. Eksfoliasi lebih dari 3-4 kali seminggu justru bisa merusak skin barrier dan memperparah bruntusan.

Produk yang bisa kamu coba

Untuk eksfoliasi, Avoskin Miraculous Refining Toner (AHA BHA PHA) adalah salah satu produk terlaris di Shopee Indonesia sepanjang 2025 di kategori toner, terjual lebih dari 73.000 unit.

Kandungan AHA 5% + BHA 1% + PHA + niacinamide bekerja mengangkat sel kulit mati sekaligus menenangkan kulit.

👉 Cek harga Avoskin Miraculous Refining Toner di Shopee

Kalau baru mulai eksfoliasi atau punya kulit sensitif, Azarine Daily Beginner Exfoliating Toner punya konsentrasi asam yang lebih rendah dan aman untuk digunakan setiap hari.

👉 Cek harga Azarine Daily Beginner Exfoliating Toner di Shopee

Setelah eksfoliasi, selalu ikuti dengan pelembap. Kulit yang kering setelah eksfoliasi akan memproduksi minyak lebih banyak sebagai kompensasi dan itu justru memicu lebih banyak bruntusan.

Skintific 5X Ceramide Barrier Moisture Gel adalah pilihan yang tepat karena formulanya ringan dan mengandung ceramide untuk menjaga skin barrier tetap kuat.

👉 Cek harga Skintific 5X Ceramide Barrier Moisture Gel di Shopee

Bolehkah pakai produk yang sama untuk keduanya?

Pertanyaan ini wajar muncul, terutama kalau kamu belum yakin 100% kondisimu termasuk yang mana.

Jawabannya: tidak selalu bisa dipakai bergantian.

Beberapa produk memang aman untuk kedua kondisi, misalnya toner BHA rendah atau pelembap gel yang ringan. Tapi banyak produk bruntusan yang mengandung bahan yang justru memperburuk fungal acne, seperti minyak kelapa (coconut oil) atau galactomyces filtrate.

Kalau kamu belum yakin kondisimu termasuk mana, mulailah dengan produk yang sudah dikonfirmasi fungal acne safe.

Produk ini biasanya aman untuk bruntusan juga. Sebaliknya, produk khusus bruntusan belum tentu aman untuk fungal acne.

Kapan harus ke dokter?

Konsultasi ke dokter kulit jika:

  • Kondisi tidak membaik setelah 4 minggu mengganti rutinitas skincare
  • Gatal sangat parah atau menyebar ke area baru
  • Muncul nanah atau luka terbuka
  • Kamu mengalami ini berulang kali setiap beberapa bulan

Dokter bisa melakukan pemeriksaan KOH (potassium hydroxide) untuk memastikan apakah ada jamur di folikel kulitmu.

KOH adalah cara paling akurat untuk membedakan fungal acne dari bruntusan tanpa harus menebak-nebak.

Langkah selanjutnya

Kalau setelah membaca ini kamu masih belum yakin kondisimu termasuk yang mana, mulai dari produk yang sudah dikonfirmasi fungal acne safe.

Ini pilihan yang lebih aman karena produk tersebut umumnya tidak memperburuk bruntusan, tapi tidak berlaku sebaliknya.

Baca juga:

  • Skincare Fungal Acne Safe: 5 Pilihan Terbaik di Shopee Indonesia
  • Cara Menghilangkan Bruntusan di Wajah dengan Skincare yang Tepat
  • Skin Barrier Rusak: Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Memulihkannya

FAQ

Apakah fungal acne bisa sembuh sendiri?

Pada kondisi ringan, fungal acne bisa membaik jika pemicunya dihilangkan, misalnya dengan mengganti produk yang menjadi makanan jamur dan menjaga kulit tetap kering. Tapi untuk kondisi sedang hingga berat, biasanya dibutuhkan produk antijamur topikal atau obat minum dari dokter.

Apakah bruntusan bisa hilang tanpa eksfoliasi?

Bisa, jika penyebabnya dihilangkan, contohnya dengan mengganti produk yang menyumbat pori. Tapi eksfoliasi rutin 2-3 kali seminggu mempercepat prosesnya dan mencegah bruntusan kembali muncul.

Bolehkah pakai benzoil peroksida untuk fungal acne?

Tidak dianjurkan. Benzoil peroksida dirancang untuk melawan bakteri penyebab jerawat biasa, bukan jamur Malassezia. Penggunaan benzoil peroksida pada fungal acne bisa memperparah kondisi kulit.

Berapa lama bruntusan bisa hilang?

Tergantung penyebab dan konsistensi perawatan. Dengan eksfoliasi rutin dan produk yang tepat, bruntusan ringan biasanya mulai membaik dalam 2-4 minggu. Kasus yang lebih parah bisa membutuhkan 6-8 minggu.

Apakah fungal acne menular?

Tidak. Jamur Malassezia ada di kulit semua orang, termasuk kulitmu sekarang, bahkan saat tidak ada gejala apapun. Yang berubah bukan jamurnya, tapi kondisi kulit yang tiba-tiba memberi jamur itu kesempatan untuk tumbuh berlebihan. Jadi tidak ada yang bisa ‘menularkan’ fungal acne ke kamu, dan kamu tidak bisa menularkannya ke orang lain.


Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti konsultasi medis. Jika kamu mengalami kondisi kulit yang parah atau tidak membaik, konsultasikan dengan dokter spesialis kulit.

Artikel ini mengandung link afiliasi Shopee. Kami mendapat komisi kecil jika kamu membeli melalui link tersebut, tanpa biaya tambahan dari kamu. Rekomendasi produk di artikel ini dipilih berdasarkan kandungan dan relevansi dengan topik, bukan berdasarkan besarnya komisi.

Filed Under: Jerawat Tagged With: bruntusan, fungal acne

Primary Sidebar

More to See

Ilustrasi bergaya flat ala Kurzgesagt yang menampilkan seorang perempuan dengan kulit wajah merah, kering, dan pecah-pecah sebagai tanda skin barrier rusak, disertai perisai retak di sisi kiri dengan elemen panas dan mikroorganisme, serta sisi kanan berlatar biru yang menampilkan produk skincare, vitamin, dan bahan menenangkan sebagai simbol pemulihan kulit.

Skin Barrier Rusak: Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Memulihkannya

April 7, 2026 By Biutiva

Ilustrasi bergaya flat ala Kurzgesagt yang menampilkan dua wajah perempuan berdampingan: sisi kiri dengan jerawat merah meradang (fungal acne) berlatar biru dengan elemen mikroorganisme dan obat, serta sisi kanan dengan bruntusan kecil berwarna kulit berlatar oranye dengan elemen minyak dan produk skincare.

Fungal Acne vs Bruntusan: Beda Penyebab, Beda Cara Atasi

April 6, 2026 By Biutiva

Copyright © 2026 · Biutiva.com