
- Sunscreen bukan pilihan, tapi langkah skincare yang paling terbukti secara klinis. Multiple uji klinis acak membuktikan pemakaian sunscreen harian melindungi dari kanker kulit, memperlambat penuaan dini, dan mencegah hiperpigmentasi bekas jerawat menjadi lebih gelap.
- SPF 30 memblokir 97% UVB, SPF 50 memblokir 98%. Perbedaannya hanya 1% tapi konsistensi penggunaan dan jumlah yang diaplikasikan jauh lebih menentukan dari angka SPF yang tertera.
- Dua jenis utama: chemical sunscreen (menyerap UV, formula lebih ringan, lebih cocok untuk kulit berminyak Indonesia) dan physical/mineral sunscreen (memantulkan UV, lebih aman untuk kulit sensitif, cenderung white cast).
- Untuk kulit berminyak dan berjerawat: pilih water-based, non-comedogenic, SPF 30–50, dan pastikan ingredient list-nya bebas minyak nabati serta ester pemicu Malassezia. Untuk kulit kering dan sensitif: pilih physical sunscreen atau hybrid dengan kandungan pelembap. Untuk kulit dengan fungal acne: cek ingredient list bebas dari minyak nabati dan ester lemak pemicu Malassezia.
- Kesalahan yang paling umum: jumlah yang dipakai terlalu sedikit, tidak diulang setiap 2 jam saat di luar ruangan, dan skip sunscreen di hari mendung atau saat di dalam ruangan dekat jendela.
Kalau hanya ada satu produk skincare yang harus kamu pakai setiap hari — terlepas dari jenis kulit, masalah kulit, atau anggaran — itu adalah sunscreen.
Bukan serum niacinamide. Bukan moisturizer ceramide. Bukan toner AHA, tapi sunscreen.
Bukan karena produk lain tidak berguna, tapi karena bahan aktif anti-jerawat, anti-aging, atau pencerah tidak bisa bekerja optimal jika paparan UV terus merusak kulit dari hari ke hari.
Niacinamide membantu menyamarkan bekas jerawat, tapi tanpa sunscreen bekas itu akan terus menggelap setiap kali terkena matahari.
Retinol meregenerasi sel kulit, tapi tanpa sunscreen manfaatnya terus-menerus dikikis oleh kerusakan UV yang terjadi setiap harinya.
Di Biutiva, pertanyaan soal sunscreen yang paling sering masuk adalah tentang SPF yang tepat, pilihan antara chemical atau physical, dan jenis mana yang tidak bikin jerawat.
Hampir semua pertanyaan tersebut berujung ke satu masalah: belum banyak orang memiliki fondasi yang kuat soal sunscreen.
- Mengapa sunscreen lebih krusial di Indonesia daripada di negara lain?
- Sunscreen sebenarnya melindungi dari apa?
- Dua jenis sunscreen: chemical vs physical
- Cara membaca label sunscreen
- Berapa banyak sunscreen yang harus dipakai?
- Kapan dan seberapa sering harus diulang?
- Sunscreen untuk berbagai jenis kulit dan kondisi
- Cara memakai sunscreen yang benar
- Rekomendasi produk berdasarkan data Shopee
- Yang tidak perlu kamu khawatirkan
- Langkah selanjutnya
- FAQ
Mengapa sunscreen lebih krusial di Indonesia daripada di negara lain?
Indonesia terletak di antara 6° LU dan 11° LS — hampir sepenuhnya di dalam zona khatulistiwa.
Hal ini berarti matahari nyaris berada tegak lurus di atas kepala sepanjang tahun, tanpa sudut datang yang mereduksi intensitasnya seperti yang terjadi di negara-negara lintang tinggi.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Pharmaceutical Chemistry Journal (2025) mengkonfirmasi bahwa negara-negara dengan iklim tropis mengalami paparan sinar UV yang lebih tinggi selama musim kemarau.
Kondisi tersebut dikombinasikan dengan kelembapan tinggi yang mempercepat degradasi kandungan sunscreen di kulit dan mengurangi durasi efektivitasnya.
Artinya, ada dua poin penting untuk pengguna sunscreen di Indonesia: pertama, SPF minimum yang direkomendasikan untuk pemakaian harian di Indonesia lebih tinggi dari yang dianjurkan untuk negara-negara di Eropa atau Amerika Utara.
Kedua, frekuensi pengulangan sunscreen (reapplication) lebih kritis di sini karena panas dan keringat mempercepat degradasi formula.
Tinjauan global tentang rekomendasi SPF regional yang dipublikasikan di PMC mengkonfirmasi bahwa untuk aktivitas harian dengan paparan insidental (commuting, aktivitas di dalam ruangan dekat jendela), SPF 30 adalah minimum yang efektif.
Sedangkan untuk aktivitas luar ruangan yang lebih lama, SPF 50 memberikan margin keamanan yang lebih baik.
Global Perspectives on Regional Sun Protection Factor (SPF) Requirements — PMC, 2025
Sunscreen sebenarnya melindungi dari apa?

Matahari memancarkan tiga jenis radiasi UV:
UVB (290–320 nm) — penyebab utama sunburn (kulit merah terbakar) dan menjadi angka acuan SPF pada kemasan sunscreen. UVB adalah radiasi yang paling langsung merusak DNA sel kulit dan berperan paling kuat dalam perkembangan kanker kulit jenis karsinoma sel skuamosa.
UVA (320–400 nm) — menembus lebih dalam ke lapisan dermis dibanding UVB, menyebabkan kerusakan yang lebih tersembunyi seperti penuaan dini (photoaging), pembentukan kerutan, kehilangan elastisitas, dan memperparah hiperpigmentasi.
UVA mampu menembus kaca dan tetap eksis bahkan di hari mendung yang berarti kamu tetap terpapar UVA saat duduk di dekat jendela kantor, di dalam mobil, atau di hari yang tampaknya tidak cerah.
Angka PA (++++ sistem) di kemasan sunscreen Asia — termasuk Indonesia — mengukur perlindungan terhadap UVA. PA++++ memberikan perlindungan UVA tertinggi dalam sistem ini.
Untuk kulit Indonesia yang cenderung lebih gelap dan lebih rentan terhadap hiperpigmentasi pasca-inflamasi (bekas jerawat menggelap, dll.), perlindungan UVA sama pentingnya dengan perlindungan UVB.
Fakta ini membuat label broad-spectrum (melindungi dari keduanya) sangat penting untuk dipastikan ada di kemasan.
American Academy of Dermatology — Sunscreen FAQs: Broad spectrum, SPF, and more
Dua jenis sunscreen: chemical vs physical
Ini adalah perbedaan yang banyak ditanyakan dan paling sering dijawab setengah-setengah di blog Indonesia.

Chemical sunscreen (organik)
Bekerja dengan cara menyerap radiasi UV dan mengkonversinya menjadi panas yang kemudian dilepaskan dari kulit.
Sunscreen jenis ini tidak memantulkan cahaya dan tidak meninggalkan lapisan putih di permukaan kulit.
Bahan aktif yang umum ditemukan: avobenzone, octinoxate, octocrylene, homosalate, oxybenzone, tinosorb S, tinosorb M.
Keunggulan: tekstur sangat ringan, tidak meninggalkan white cast, lebih mudah meresap ke kulit, lebih nyaman untuk pemakaian harian di iklim Indonesia yang panas.
Keterbatasan: filter generasi lama seperti oxybenzone dan octinoxate membutuhkan 15–30 menit setelah aplikasi sebelum memberikan perlindungan penuh karena bahan aktif perlu terserap ke lapisan kulit lebih dalam.
Filter generasi baru yang banyak digunakan di produk Asia, seperti Tinosorb S (bis-ethylhexyloxyphenol methoxyphenyl triazine) dan Tinosorb M, bekerja di permukaan kulit dan memberikan perlindungan lebih cepat.
Untuk produk dengan filter campuran yang tidak jelas generasinya, kebiasaan mengaplikasikan sunscreen 15 menit sebelum keluar tetap merupakan praktik yang aman.
Sebagian bahan aktif tertentu (oxybenzone) memiliki kontroversi seputar absorpsi sistemik yang masih diteliti, meskipun AAD menyatakan sunscreen yang tersedia di pasaran masih aman digunakan.
Cocok untuk: kulit berminyak dan berjerawat (tekstur lebih ringan, lebih mudah meresap), penggunaan harian di bawah makeup.
Physical/mineral sunscreen (anorganik)
Bekerja dengan cara memantulkan dan menyebarkan radiasi UV di permukaan kulit. Membentuk lapisan fisik di atas kulit.
Bahan aktif: zinc oxide, titanium dioxide (atau kombinasi keduanya).
Keunggulan: memberikan perlindungan segera setelah aplikasi tanpa perlu waktu tunggu. Lebih stabil di bawah paparan matahari. Lebih aman untuk kulit sangat sensitif, bayi, dan ibu hamil karena risiko absorpsi sistemik lebih rendah.
Keterbatasan: tekstur lebih berat, lebih sulit meresap, cenderung meninggalkan white cast terutama pada kulit gelap. Kondisi ini menjadi tantangan signifikan untuk pengguna di Indonesia dengan warna kulit sawo matang.
Cocok untuk: kulit sangat sensitif atau reaktif, ibu hamil dan menyusui, kulit yang baru pulih dari prosedur skincare, bayi dan anak.
Hybrid sunscreen
Banyak produk di pasar Indonesia menggunakan kombinasi chemical + physical filters untuk mendapatkan keunggulan dari keduanya: perlindungan stabil dari mineral filter, dengan tekstur yang lebih ringan berkat chemical filter.
Perbandingan detail chemical vs physical sunscreen: Perbedaan Chemical vs Physical Sunscreen — Mana yang Lebih Cocok untuk Kulitmu?
Cara membaca label sunscreen
SPF (Sun Protection Factor)
SPF mengukur seberapa lama sunscreen melindungi dari UVB dibanding kulit yang tidak dilindungi sama sekali.
Perlu diingat bahwa angka SPF bukan pengali waktu aman di bawah matahari, tapi merupakan ukuran proporsi UV yang diblokir.
Berdasarkan tinjauan global SPF yang dipublikasikan di PMC (2025), SPF 30 memblokir sekitar 97% UVB, dan SPF 50 memblokir sekitar 98%.
Perbedaannya hanya 1%, tapi dalam konteks penggunaan riil (orang sering tidak mengaplikasikan jumlah yang cukup), SPF 50 memberikan margin keamanan yang lebih bermakna dari yang terlihat di atas kertas.
Rekomendasi untuk Indonesia: SPF 30 minimum untuk aktivitas harian di dalam ruangan atau dengan paparan pendek. SPF 50 untuk aktivitas luar ruangan, olahraga, atau paparan matahari lebih dari 30 menit berturut-turut.
PA (Protection Grade of UVA)
Sistem PA (++, +++, ++++) dikembangkan di Jepang dan luas digunakan di produk Asia:
- PA+: proteksi UVA rendah
- PA++: proteksi UVA sedang
- PA+++: proteksi UVA tinggi
- PA++++: proteksi UVA sangat tinggi
Untuk penggunaan harian di Indonesia, PA+++ atau PA++++ adalah standar yang disarankan.
Broad-spectrum
Label “broad-spectrum” artinya produk telah lulus uji standar yang membuktikan mampu melindungi dari UVA dan UVB sekaligus. Ini adalah label yang wajib ada, bukan sekedar preferensi.
Water-resistant
Artinya formula mempertahankan perlindungannya selama 40 atau 80 menit saat berkeringat atau berenang (tergantung label yang tercantum).
Untuk aktivitas olahraga atau di kolam renang/pantai, pilih yang berlabel water-resistant.

Berapa banyak sunscreen yang harus dipakai?
Banyak orang mengaplikasikan sunscreen terlalu sedikit sehingga menurunkan efektivitas perlindungannya.
AAD merekomendasikan penggunaan sunscreen sebanyak 2 jari penuh (two-finger rule) untuk wajah dan leher atau setara dengan sekitar 1/4 sendok teh untuk wajah saja. Untuk seluruh tubuh, dibutuhkan sekitar 2–3 sendok makan (30 ml).
Mengapa ini penting: angka SPF pada kemasan diuji dengan densitas aplikasi 2 mg/cm².
Kalau kamu mengoleskan separuhnya, perlindungan yang kamu dapat tidak separuh dari SPF yang tertera, melainkan akan turun secara signifikan.
Sebagai contoh, aplikasi setengah takaran bisa menurunkan SPF 50 menjadi perlindungan yang hanya setara SPF 7.
Uji klinis yang dipresentasikan di Dermatology Conferences 2024 dengan subjek perempuan Indonesia mengkonfirmasi bahwa water-based sunscreen SPF 50+ PA++++ menunjukkan peningkatan kesehatan skin barrier yang signifikan (pengurangan TEWL 11,30% di hari ke-14 dan 13,82% di hari ke-28), tapi hasil ini hanya tercapai dengan aplikasi yang konsisten dan jumlah yang tepat.
Kapan dan seberapa sering harus diulang?
Pagi hari: untuk chemical sunscreen dengan filter generasi lama, aplikasikan 15 menit sebelum keluar. Physical sunscreen dan produk dengan filter modern (Tinosorb S/M) memberikan perlindungan lebih cepat.
Reapplication: setiap 2 jam saat aktif di luar ruangan, atau segera setelah berenang, berkeringat banyak, atau menyeka wajah dengan handuk, terlepas dari apapun yang tertera di kemasan.
Jika di dalam ruangan: tidak perlu reapplication jika tidak dekat jendela besar dan tidak terpapar sinar matahari langsung. Tapi jika duduk di dekat jendela seharian, pertimbangkan penggunaan ulang sekali di siang hari.
Penjelasan ilmiah mengapa sunscreen perlu diulang setiap 2 jam: Kenapa Sunscreen Harus Dipakai Ulang Setiap 2 Jam?
Sunscreen untuk berbagai jenis kulit dan kondisi

Kulit berminyak dan berjerawat
Pilih water-based atau gel-based sunscreen. Tekstur ringan, non-comedogenic, tidak menyumbat pori.
Chemical sunscreen biasanya lebih cocok dari physical sunscreen yang cenderung lebih berat.
Hindari sunscreen yang mengandung minyak nabati atau ester berat di antara 10 bahan pertama.
Studi klinis yang dipresentasikan di Dermatology Conferences 2024 dengan subjek perempuan Indonesia menemukan bahwa water-based sunscreen menunjukkan perbaikan kondisi jerawat dan skin barrier sekaligus sehingga membuktikan bahwa memilih formula yang tepat dapat memberikan manfaat ganda.
Rekomendasi produk: Sunscreen untuk Kulit Berminyak dan Berjerawat di Shopee 2026
Kulit kering
Pilih sunscreen dengan kandungan humektan (glycerin, hyaluronic acid) dan emolien.
Physical sunscreen dengan tekstur cream bisa membantu menggabungkan perlindungan UV dengan kelembapan.
Hindari formula beralkohol tinggi.
Kulit sensitif
Physical sunscreen (zinc oxide atau titanium dioxide) adalah pilihan pertama karena memiliki risiko iritasi lebih rendah karena tidak diserap ke kulit.
Pilih yang bebas fragrance, bebas alkohol denat, dan bebas essential oil.
Rekomendasi sunscreen untuk kulit sensitif: Sunscreen untuk Kulit Sensitif di Shopee 2026
Kulit dengan fungal acne
Banyak orang dengan kondisi ini memilih sunscreen yang salah.
Malassezia — jamur penyebab fungal acne — bergantung pada lipid sebagai makanan. Banyak sunscreen mengandung minyak nabati, ester lemak, atau emulsifier yang menjadi pemicunya.
Bahan yang harus dihindari: coconut oil, isopropyl palmitate, isopropyl myristate, polysorbate 20/60/80, galactomyces ferment.
Pilih formula water-based yang ingredient list-nya bebas dari semua bahan tersebut.
Rekomendasi sunscreen khusus untuk kondisi fungal acne: Sunscreen Aman untuk Fungal Acne di Shopee
Kulit dengan skin barrier rusak
Saat skin barrier sedang dalam pemulihan, sunscreen tetap wajib dipakai. Skin barrier yang rusak justru lebih rentan terhadap kerusakan UV.
Pastikan memilih sunscreen dengan formula yang sangat gentle, bebas alkohol denat, bebas fragrance, dan bebas bahan aktif kimia agresif.
Physical sunscreen dengan kandungan ceramide adalah pilihan ideal.
Mengapa skin barrier rusak membuat kulit lebih rentan terhadap UV: Skin Barrier Rusak — Ciri-Ciri dan Cara Memulihkannya
Cara memakai sunscreen yang benar
Urutan dalam rutinitas pagi: Cleanser → toner (jika ada) → serum → moisturizer → sunscreen → makeup (jika ada)
Sunscreen selalu menjadi langkah terakhir sebelum makeup. Bukan di bawah moisturizer, tapi di atasnya.
Jumlah yang tepat: 2 jari penuh untuk wajah dan leher (lihat penjelasan di atas).
Teknik aplikasi: usap merata ke seluruh wajah termasuk dahi, hidung, pipi, dagu, dan leher. Jangan lupa telinga dan bagian atas dada jika terbuka.
Tepuk-tepuk dengan jari untuk memastikan meresap merata, bukan digosok yang bisa menggeser formula.
Waktu: untuk chemical sunscreen dengan filter lama, aplikasikan 15 menit sebelum keluar. Untuk physical sunscreen dan produk dengan filter modern, langsung memberikan perlindungan.
Panduan cara pakai sunscreen yang benar beserta kesalahan yang sering dilakukan: Cara Pakai Sunscreen yang Benar
Rekomendasi produk berdasarkan data Shopee
Berdasarkan data Compas Q1 2026, brand sunscreen terlaris di Shopee Indonesia adalah Wardah (9,72%), Facetology (6,32%), dan Azarine (6,31%), dengan enam dari sepuluh brand terlaris adalah brand lokal.
Fakta yang bukan kebetulan karena produk lokal diformulasikan dengan mempertimbangkan kebutuhan kulit tropis dan harga yang kompetitif.
Untuk kulit berminyak dan berjerawat (termasuk yang rentan fungal acne): Skintific Aqua Light Sunscreen SPF 35 PA++++ — formula gel berbasis air, bebas minyak nabati, tidak white cast, dan ingredient list-nya bersih dari Royal Jelly dan Lecithin.
Dua bahan terakhir diatas diketahui terkandung di beberapa sunscreen populer lokal dan berpotensi memicu pertumbuhan jamur Malassezia — masalah yang sering dialami sebagian besar kulit berjerawat di Indonesia.
👉 Cek harga Skintific Aqua Light Sunscreen SPF 35 di Shopee
Untuk kulit normal dan kombinasi: Wardah UV Shield Bright-C Hydrating Sunscreen Serum SPF 35 PA+++ — formula serum ringan dengan Vitamin C dan Niacinamide, finishing fresh, cocok untuk pemakaian harian.
👉 Cek harga Wardah UV Shield Bright-C Hydrating Sunscreen Serum SPF 35 di Shopee
Untuk kulit sensitif: Facetology Triple Care Pure Physical Sunscreen SPF 40 PA+++ — physical sunscreen murni (zinc oxide + titanium dioxide), water-based, tidak white cast.
Memberikan perlindungan segera tanpa perlu waktu tunggu, aman untuk ibu hamil dan menyusui, cocok untuk kulit yang tidak tahan chemical filter.
👉 Cek harga Facetology Triple Care Pure Physical Sunscreen SPF 40 PA+++ di Shopee
Perbandingan lengkap semua pilihan sunscreen lokal terbaik: Sunscreen Lokal Terbaik di Shopee 2026
Yang tidak perlu kamu khawatirkan

“Sunscreen memblokir vitamin D.”
Ini adalah kekhawatiran yang sering muncul. Faktanya: hampir tidak ada pengguna sunscreen yang mengalami defisiensi vitamin D karena sunscreen hanya diaplikasikan di sebagian tubuh.
Di negara tropis seperti Indonesia, bahkan dengan sunscreen, paparan UV lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin D tubuh.
“Sunscreen kimia berbahaya karena diserap kulit.”
AAD dan FDA menyatakan bahwa sunscreen yang tersedia di pasaran aman digunakan.
Penelitian tentang absorpsi sistemik masih berlangsung, tapi tidak ada bukti bahwa kadar yang terdeteksi dalam darah menyebabkan dampak kesehatan negatif.
Jika sangat khawatir, pilih physical sunscreen.
“Kulit gelap tidak perlu sunscreen.”
Salah. Kulit gelap memang memiliki melanin lebih banyak yang memberikan perlindungan alami lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya.
Hiperpigmentasi, photoaging, dan kerusakan UV tetap terjadi pada kulit gelap, meski dengan laju yang lebih lambat.
Dan pada kulit sawo matang yang rentan hiperpigmentasi, sunscreen justru lebih penting untuk mencegah bekas jerawat menggelap.
Langkah selanjutnya
Satu fakta yang paling sering diabaikan: memakai sunscreen terlalu sedikit memberi perlindungan yang jauh lebih rendah dari SPF yang tertera di kemasan.
Studi menunjukkan kebanyakan orang memakai hanya seperempat hingga setengah dari jumlah yang seharusnya — yang berarti SPF 50 yang dipakai terlalu tipis memberikan perlindungan hanya setara SPF 10–15.
Dua minggu pertama: fokus hanya pada satu hal — jumlah yang cukup. Dua jari penuh untuk wajah dan leher, setiap pagi, tanpa pengecualian.
Setelah kebiasaan itu terbentuk, baru pertimbangkan pertanyaan berikutnya: formula yang lebih cocok, SPF yang lebih tinggi untuk aktivitas outdoor, atau sunscreen khusus untuk kondisi kulitmu.
Panduan sunscreen per kondisi kulit:
- Sunscreen untuk Kulit Bermasalah: Panduan untuk Jerawat, Fungal Acne, dan Skin Barrier Rusak
- Sunscreen untuk Kulit Berminyak dan Berjerawat: Rekomendasi di Shopee 2026
- Sunscreen Aman untuk Fungal Acne: Pilihan di Shopee yang Sudah Diverifikasi
- Sunscreen untuk Kulit Sensitif: Rekomendasi di Shopee 2026
Panduan teknis dan perbandingan:
- Perbedaan Chemical vs Physical Sunscreen: Mana yang Lebih Cocok?
- SPF 30 vs SPF 50: Perbedaan Nyata dan Mana yang Harus Dipilih
- Cara Pakai Sunscreen yang Benar: Urutan, Takaran, dan Kesalahan Umum
Koneksi ke rutinitas lengkap:
- Panduan Lengkap Rutinitas Skincare untuk Semua Masalah Kulit
- Rangkaian Skincare Lengkap untuk Kulit Berminyak dan Berjerawat
FAQ
Ya, jika kamu berada dekat jendela atau terpapar cahaya matahari secara tidak langsung. UVA bisa menembus kaca, artinya duduk di dekat jendela kantor atau di dalam mobil, kulit tetap terpapar UVA secara signifikan. Jika kamu benar-benar berada di dalam ruangan tanpa jendela atau di ruangan yang gelap, sunscreen tidak wajib. Tetapi untuk kebanyakan aktivitas dalam ruangan modern, paparan UVA tetap terjadi.
Tergantung formulanya. Beberapa sunscreen, terutama yang berbasis krim atau mengandung hyaluronic acid dan glycerin, bisa berfungsi ganda sebagai pelembap ringan. Untuk kulit berminyak di iklim Indonesia, melakukan hal ini sering sudah cukup. Tapi untuk kulit kering atau selama fase pemulihan skin barrier, tetap diperlukan moisturizer terpisah di bawah sunscreen.
Mineral sunscreen (zinc oxide, titanium dioxide) adalah pilihan paling aman selama kehamilan karena tidak diserap ke dalam darah secara signifikan. Untuk chemical sunscreen, AAD menyatakan bahwa risiko yang terbukti dari paparan UV jauh lebih besar dari risiko teoretis bahan aktif sunscreen. Tapi selalu konsultasikan dengan dokter kandungan untuk keputusan akhir.
Dua kemungkinan: formulanya komedogenik (mengandung minyak atau ester berat yang menyumbat pori), atau kamu mengalami reaksi terhadap salah satu bahan aktif kimia. Coba ganti ke physical sunscreen atau sunscreen yang berlabel non-comedogenic dan bebas minyak. Jika masih breakout setelah ganti produk, periksa apakah bruntusan yang muncul terasa gatal karena bisa jadi merupakan fungal acne yang dipicu oleh bahan tertentu dalam formula.
Dengan pemakaian yang benar (2 jari penuh untuk wajah dan leher) setiap hari tanpa reapplication, 50 ml akan habis dalam sekitar 2–3 minggu. Jika sebotol sunscreen 50 ml bertahan lebih dari sebulan, kemungkinan besar kamu memakai terlalu sedikit dan perlindungan yang kamu dapat kurang dari angka SPF yang tertera.

Kami meriset dan menulis konten skincare berdasarkan literatur dermatologi dan sumber klinis terpercaya. Konten di website ini tidak menggantikan konsultasi dengan dokter spesialis kulit.
Selengkapnya di Tentang Biutiva
Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti konsultasi medis. Untuk kondisi kulit tertentu atau pertanyaan spesifik tentang keamanan sunscreen selama kehamilan atau kondisi medis, konsultasikan dengan dokter spesialis kulit.
Artikel ini mengandung link afiliasi Shopee. Kami mendapat komisi kecil jika kamu membeli melalui link tersebut, tanpa biaya tambahan dari kamu.
